News Update :
Home » » Pos Ronda Atau Pos Kampling

Pos Ronda Atau Pos Kampling

Penulis : Dedie Kusmayadi on Jumat, 14 September 2012 | Jumat, September 14, 2012


Setiap jaman ternyata membawa ceritanya sendiri-sendiri. Setiap masa membawa kepingan sejarahnya masing-masing. Kehidupan tidak pernah ajeg berdiri di satu tempat, layaknya sebuah perputaran bumi yang selalu menggelinding tepat pada rotasinya.

Namun, kadangkala zaman yg dahulu dilupakan, yg baru msh di pelajari apalagi yg akan datang msh direncanakan dan banyak perdebatan. Sebuah gubuk kecil dengan beranda dan dipan lalu dilengkapi gantungan kentunganan, serta bangunan beratap aneka bentuk sesuai dgn lingkungan ia berada. Mulai dari atap ilalang bagaikan gubug derita di lingkungan orang kampung, hingga bangunan bertembok dan beratap genting pakai pilar beton pada residu lahan persial, atau pada tanah wakaf di lingkungan permukiman orang-orang berada nan kaya.

Pos ronda, bagaikan janji terpatri dan petuah tanpa suara. dahulu dibangunan pos Ronda ini tanpa ada perbedaan siapa yg kaya dan siapa yg tdk kaya, menyatu dalam rasa tanggung jawab bersama, tempat akrab serta lembaga silaturahmi kecil antar warga. Beraroma kebersamaan, keberpihakan dan sependeritaan bak lazim sesuatunya memiliki tujuan keamanan, kenyamanan dan keasrian bersama diantara warga dalam satu kawasan satu RT hingga satu RW (Rukun Warga)... pada lingkungan tanpa skat pemisah. Semua terdaftar dan semua ada gilirannya untuk me-ronda..

Sekarang Pos Ronda... alias pos keamanan dan lingkungan (Pos kamling), masih tetap memiliki makna serta pendefinisian yang sama... tapi sarat dengan perubahan filosofinya, yakni terabaikan warga hingga dilupakan karena kesibukan, gejala individualis dan terwakilkan atau mewakilkan karena cukup dengan upah atau suguhan yang bisa kusodorkan, serta peran atau fungsi hansip menjadikan ganda, atau keamanan sistem ganda yg kadangkala terbisit kata ronda menjadi ejekan sensual yang nakalnya jadi forumnya sang lelaki iseng utk persiapan ngintipnya sang “Randa” alias “Janda”, bahkan ada sebagian kecil lainnya jadi tempat sementara untuk hal yang mesum, sekaligus tempat gibah dan “ngawangkong” tanpa judul (ngawadul). Hayu atuh ngaranda eh ngaronda...heee...hee...hee (diesmd)
Share Berita ini :


Poskan Komentar

 
Copyright © Sumedang Post Online
RSS Feed